top of page

PERAN GEN Z DALAM MENGUKUHKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS BANGSA

Mengikuti arus perkembangan zaman, banyak masyarakat khususnya generasi Z atau dikenal dengan Gen Z kini menganggap sepele bahasa Indonesia dan mengagungkan bahasa asing karena dianggap bergengsi. Anak muda kerap mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing hingga tanpa sadar lupa padanan kata dalam bahasa Indonesia. Selain itu, Gen Z mulai banyak yang salah kaprah ejaan karena terbiasa dengan bahasa gaul yang cepat tersebar melalui media sosial. Miris, bukan?

Berdasarkan penelitian dalam jurnal “Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Gen Z”, meskipun bahasa gaul mampu mendorong kreativitas dalam keseharian, penggunaannya justru menimbulkan dampak negatif karena bahasa Indonesia menjadi jarang dipakai secara konsisten. Data frekuensi menunjukkan bahwa banyak generasi Z sering menyelipkan kata-kata gaul ketika berkomunikasi. Survei terhadap 35 responden mengungkapkan bahwa 2,9% sangat sering menggunakan bahasa gaul, 42,9% sering, 48,9% kadang-kadang, dan 5,7% jarang menggunakannya. Selain itu, hasil survei juga memperlihatkan bahwa 45,7% responden menilai bahasa gaul berpengaruh buruk terhadap kemampuan mereka menggunakan bahasa Indonesia. Temuan ini menandakan adanya kecenderungan bahasa gaul berpotensi menggeser peran bahasa Indonesia formal dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa Indonesia dapat diibaratkan sebagai akar pohon yang menancap di tanah. Bahasa daerah di Indonesia dapat diibaratkan sebagai batang, cabang, dan daun. Tanpa adanya akar, pohon bisa tumbang meski daunnya rimbun atau batang yang memiliki banyak cabang. Bahasa Indonesia berperan sebagai pemersatu dari bahasa daerah di Indonesia, sebagai akar yang akan memperkuat batangnya. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2024, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Dengan menjunjung tinggi semboyan Bhineka Tunggal Ika, keragaman bahasa bukanlah menjadi penghalang masyarakat untuk tetap bersatu dalam NKRI.

Di sinilah pentingnya sebuah instrumen yang mampu menjaga kualitas penggunaan bahasa Indonesia agar tidak semakin tergerus. Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif merupakan sarana tolok ukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia yang diciptakan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. UKBI mempunyai peran penting, bukan hanya untuk meningkatkan keahlian penggunaan bahasa Indonesia, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap bahasa Indonesia. UKBI Adaptif pun dibuat agar mudah diakses serta fleksibel dalam mengatasi kendala ruang dan waktu.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran berbahasa indonesia, SMAS PKP DKI Jakarta turut serta mengikuti UKBI Adaptif yang diselenggarakan pada tanggal 2 & 3 September 2025 yang diikuti oleh 304 peserta didik kelas XII. UKBI yang dilaksanakan terdiri atas tiga seksi, yaitu Seksi I Mendengarkan, Seksi II Merespons Kaidah, dan Seksi III Membaca. Hasil UKBI peserta didik dipetakan ke dalam tujuh peringkat, dari yang tertinggi sampai terendah, yaitu Istimewa (Skor 725—800), Sangat Unggul (Skor 641—724), Unggul (Skor 578—640), Madya (Skor 482—577), Semenjana (Skor 405—481), Marginal (Skor 326—404), dan Terbatas (Skor 251—325).

 

Berdasarkan hasil UKBI dari peserta didik yang secara keseluruhan merupakan dari kalangan Gen Z di SMAS PKP DKI Jakarta, memperoleh skor antara 482–724. Skor tersebut termasuk dalam kategori Madya, Unggul, dan Sangat Unggul. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia mereka sudah cukup baik, tetapi tetap diperlukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa. Hasil tersebut menjadi cermin, bahwa masih ada ruang besar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia. Jangan sampai bahasa bahasa Indonesia hanya menjadi pelengkap, sementara bahasa asing semakin diagungkan. Justru dengan menguasai bahasa Indonesia dengan baik, kita dapat menunjukkan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

Mahir berbahasa bukan sekadar mampu berbicara, tetapi juga mampu menulis dengan benar, menyimak dengan cermat, serta menggunakan bahasa sesuai kaidah yang berlaku. Melalui kebiasaan membaca karya tulis berbahasa Indonesia, menulis dengan memperhatikan ejaan yang tepat, serta berlatih berbicara dengan bahasa yang santun, kompetensi kita akan meningkat sedikit demi sedikit.

Mari jadikan bahasa Indonesia sebagai kebanggaan bersama. Bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang melekat pada diri bangsa. Dengan terus mengasah kemahiran berbahasa melalui sarana seperti UKBI Adaptif maupun praktik sehari-hari, kita turut menjaga agar akar pohon bangsa tetap kokoh, menopang persatuan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri.

Seorang Siswa Sedang Melakukan Uji UKBI

Comments


WEBSITE - CTA_edited.jpg
WEBSITE - CTA 2.png

Daftar Sekarang dan Jadilah Bagian dari Kami!

Segera bergabung bersama PKP Jakarta Islamic School dan rasakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, prestasi, serta akhlak mulia. Tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penerus bangsa!

bottom of page